Keane Mengatakan Bahwa Ferguson Egois

Keane Mengatakan Bahwa Ferguson Egois

Keane Mengatakan Bahwa Ferguson Egois

Hubungan yang tidak harmonis antara Roy Keane dan Sir Alex Ferguson terus berlanjut. Bagi asisten pelatih Republik Irlandia itu menganggap kalau Ferguson sosok yang egois, karena ia masih mencoba untuk mengendalikan dan memiliki pengaruh besar di Manchester United, walau sudah menyatakan pensiun di musim panas lalu. Keane, yang merupakan salah satu kapten lini tengah di era kepemimpinan Ferguson turut menuai kesuksesan pada tahun 1993 dan 2005, dan ia mengatakan mantan pelatihnya itu memiliki watak egois yang tinggi, dan justru memberi penilaian terhadap mantan pelatihnya di Nottingham Forest, Brian Clough, sebagai salah satu pelatih terbaik yang pernah bekerja sama dengannya. Sementara pihak Manchester United sendiri saat ini sedang mengalami kesulitan sejak masa perubahan dari dinasti Sir Alex Ferguson ke tangan kepemimpinan David Moyes, yang kini telah mengantongi tiga kekalahan beruntun di Old Trafford dalam ajang Liga Premier, sehingga membuat Red Devils terdampar ke peringkat sembilan pada tabel sementara.

Keane mengatakan mengenai Ferguson, yang kini menjabat posisi direktur di Old Trafford: “Segala sesuatu yang berkaitan dengan Ferguson adalah kekuatan dan kekuasaan. Bahkan ia terlihat berupaya mengendalikan tim tersebut, meski sudah tidak menjadi pelatih. Tentu terlihat betapa ego yang cukup besar diperlihatkan olehnya.”  Keane, yang memutuskan untuk meninggalkan Manchester United pada 2005 setelah terlibat perseteruan dengan Ferguson, berbicara melalui siaran televisi lokal yang sedang mengangkat sebuah film dokumenter ‘Keane dan Vieira: Musuh Terbaik’ yang akan mulai tayang pada Selasa malam, tentang persaingannya dengan mantan kapten Arsenal, Patrick Vieira. Ia mengatakan bahwa hubungannya dengan mantan pelatih Manchester United itu dianggap olehnya sudah berakhir. Pria asal Republik Irlandia itu bahkan berupaya memberi peringatan kepada Ferguson, yang meluncurkan otobiografi dan memberi pujian kepadanya, sebagai salah satu pemain yang meliputi segala area.

Hal ini berkaitan atas kesuksesan Manchester United saat mengalahkan Juventus di pertemuan kedua babak semi-final. Keane menambahkan: “Segala hal seperti itu benar-benar mengganggu saya. Saya selalu membela diri bila ada kutipan semacam itu mengenai diri saya. Itu sama saja halnya dengan memuji seorang tukang pos yang berhasil mengantarkan surat dengan baik.” Keane mengaku kalau dirinya pernah menangis di dalam mobil, saat mengetahui karirnya di Manchester United telah berakhir dengan buruk, setelah dalam sebuah wawancaranya dengan televisi milik klub, bahwa ia mengkritisi penampilan rekan-rekannya. “Tentu saja saya sangat kecewa. Saya sempat mengusap air mata di mobil saya kira-kira selama dua menit. Namun sejak saat itu saya mengatakan kepada diri ini, bahwa saya harus bangkit dan melupakan Manchester United. “Saat itu benar-benar menyedihkan. Saya meninggalkan klub dengan kondisi cedera dan tidak ada satu tempat tujuan saya berikutnya. Saya mengatakan kepada David Gill, bahwa cedera ini saya peroleh ketika memperkuat Manchester United. Seharusnya saya masih bisa bermain untuk Manchester United dengan mudah untuk beberapa tahun berikutnya, namun tidak demikian pada akhirnya.”