sbobet mobile, sbobet wap Sbobetjudi online sbobet Maxbet Casino online,Judi Poker,Agen Bola,Judi Bola,Agen Sbobet

Agen Bola Bayern di Tangan Guardiola

Bayern di Tangan Guardiola

Bayern di Tangan Guardiola

Agen Bola – Bayern Muenchen telah memasuki arena sulit dalam pertaruhan untuk mempertahankan gelar yang mereka dapat musim lalu. Aksi mereka diawali dengan meraih trofi abal-abal, Audi Cup, diraih saat melawan Manchester City di Allianz Arena. Kemenangan 2-1 atas tim asal Manchester tersebut melengkapi tiga piala pramusim yang digondol oleh mereka dalam bulan Juli dan awal Agustus.

Gelar yang diraih lewa racikan pelatih baru mereka Pep Guardiola. Saat ditanyai dalam wawancara TV Lokal, mengenai optimismenya menghadapi musim depan, disamping menghadapi beberapa masalah yang terlihat dalam pramusim. Pep menjawab : “Tentu saja, pelatih harus menjadi orang yang optimis,” sembari tersenyum saat memakai kaos abu-abu. Beberapa saat selanjutnya, wawancara Guardiola dengan reporter tersebut dimajukan. Dia berbicara bahasa Jerman dengan sangat baik dan menampilkan sosok yang baik. Saat itu dia sedang menyajikan citra barunya sebagai pelatih Bayern Muenchen juga memberikan pemikirannya mengenai taktik dan personel tim baru tersebut. Boleh saja Guardiola dengan percaya diri membangun citranya didepan kamera, tapi tak semua berjalan sesuai rencananya. Lima minggu setelah menangani pekerjaan di Bavaria, persepsi public tentang dia telah berubah. Pada awalnya dia disambut oleh staff klub, para pemain, dan media di seluruh Bundesliga dengan baik, tapi saat ini dia sedang menghadapi masa skeptisme.

Tembakan pertama padanya hadir pada analisis sisi financial dari Süddeutsche Zeitung yang mengkritiknya sebagai pemboros yang tak tahu malu saat mendatangkan Thiago Alcantara – pemain yang diageni oleh kakaknya sendiri, Pere – senilai 18,2 juta pounds. Pep juga membuat kesalahan dalam hal public relation saat dia dengan sengaja membuat perselisihan dengan mantan klubnya serta membuat hubungannya dengan Tito Villanova memburuk. Süddeutsche Zeitung menganggap bahwa tindakan tersebut menyebabkan timbulnya citra dan image yang tak cocok bagi seorang gentlemen di bidang olahraga.

Hal lain yang dikritik adalah dalam hal latihan. Guardiola adalah pelatih yang sangat terobsesi dalam detail dalam latihan – “Saya tak pernah melihat seorang pelatih yang merubah begitu banyak hal,” kata striker Claudio Pizzaro, 34. Selain itu, Pep juga melakukan banyak eksperimental ekstrim dalam taktiknya, seorang Phillip Lahm yang biasanya menjadi fullback kanan dirubah posisinya menjadi gelandang tengah, target man yang menjadi pahlawan musim lalu, Mario Mandzukic dengan sengaja diposisikan sebagai winger, dia secara total merubah komponen skuad yang musim lalu menjadi mesin peraup kemenangan. “Pep Guardiola merubah tim yang paling sukses dalam sejarah Bayern Muenchen dengan semaunya sendiri,” komentar dari Der Spiegelfrom pada training camp mereka di Italia. “Para bos di klub memang terkesan dengan semangatnya – tapi juga khawatir disaat bersamaan, apakah ini semua akan berubah menjadi perubahan yang sukses.”

Pada beberapa sektor, perubahan taktikal yang dibawa rejim baru berlangsung keterlaluan. Bayern pasca tahun 2009 yang memiliki blueprint jelas: dengan berbasis penguasaan bola, menyerang dengan dua orang fullback, tiga orang menjadi gelandang tengah, serta dua orang winger dan satu atau tanpa striker. Dengan cepat Pep merubah itu menjadi hanya menggunakan satu orang gelandang bertahan daripada menggunakan dua gelandang bertahan – yang menjadikan Bayern spesial musim lalu – dia juga tetap menggunakan gaya bermain tanpa striker – padahal gaya bermain Barca yang seperti ini telah berhasil dihancurkan oleh Bayern musim lalu.

Mantan pelatih Bayern, Ottmar Hitzfield pernah mengatakan bahwa Bayern adalah “kontruksi yang sensitive, seperti mesin Ferari – setiap hal kecil harus berjalan dengan cermat”. Dan dia tak hanya mengatakan komponen diatas lapangan saja. Di Bayern, dimana pemain yang tak puas terhadap kebijakan pelatih dapat mencari simpati dari jurnalis dengan mudah, merawat psikologi mereka menjadi kegiatan yang bahkan lebih penting daripada menentukan keseimbangan antara pertahanan dan serangan. Musim lalu Jupp Heynckes berhasil melakukan hal ini. dia bisa memompa semangat tim dan mengingat pedihnya kekalahan saat mengalami treble runner up di musim sebelumnya. Pep harus membuktikan bahwa dia berada dalam koridor yang tepat untuk menangani psikologi pemain. Keluhan yang diucapkan oleh Pizzaro dan Mueller, serta eksperimen yang dilakukannya terhadap Lahm, Mandzukic, Schweini, harus mampu diatasinya dengan baik. Atau dia mau bernasib sama seperti Klinsi ..? Agen Bola